Pages

Thursday, September 22, 2016

Respirasi



Respirasi
 
       Respirasi adalah proses pengoksidasian metabolit oleh organisme saat ada oksigen untuk menangkap energi yang dikandung dalam ikatan- ikatan metabolit. Respirasi tidak hanya menghasilkan energi, melainkan juga produk- produk samping berupa karbon dioksida dan air. Serupa dengan itu, proses- proses glikolisis dan farmentasi memecah metabolit untuk memperoleh energi dan menghasilkan produk- produk samping. Jelaslah, pertukaran gas dengan suatu cara diperlukan untuk menyediakan oksigen bagi sel- sel dan menyingkirkan karbondioksida. Agak membingungkan memang, tapi proses tersebut di kenal juga sebagai respirasi. Untuk membedakan kedua bentuk respirasi itu, kita akan menyebut proses oksidatif sebagai respirasi internal, atau respirasi selular, sedangkan pertukaran gas kita sebut respirasi eksternal, atau respirasi organismik ( Fried, 2003)
       Menurut Soewolo (2000), Alat pernapasan di darat adalah :
1.      Paru- paru
Dibedakan dua tipe paru- paru : (1) paru- paru difusi, dan (2) paru- paru ventilasi. Paru- paru difusi merupakan paru- paru yang melakukan pertukaran gas dengan atmosfier sekitar hanya dengan proses difusi. Paru- paru semacam ini dijumpai pada hewan yang relatif kecil, seperti Pulmonata, Scorpion, dan beberapa Isopoda. Sedangkan paru- paru ventilasi merupakan paru- paru yang dimiliki oleh vertebrata. Paru- paru tipe ini diventilasi oleh udara tidal, yaitu udara yang langsung keluar masuk paru- paru. Paru- paru ventilasi yang paling primitif di jumpai pada Dipnoi (ikan berparu- paru).
2.      Trakhea
Trakhea merupakan alat pernapasan khas terdapat pada insekta, terdiri atas suatu sistem pembuluh udara (trakhea) yang bercabang- cabang, dimulai dari cabang besar, yang makin lama percabangan tadi makin kecil dan akhinya masing- masing. Sistem trakheal merupakan sistem pernapasan. sederhana karena sel- sel dapat berhubungan yang makin kecil dan akhirnya masing- masing cabang kecil tadi berakhir pada sel tubuh. Udara masuk ke dalam sistem trakheal melalui lubang- lubang (spirakel) pada sisi kanan- kiri tubuh insekta. Sistem trakheal merupakan sistem pernapasan yang sederhana, karena sel- sel dapat berhubungan langsung dengan udara luar melalui pembuluh darah.
       Suatu keuntungan kehidupan di darat adalah bahwa oksigen terdapat dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada dalam air. Tetapai masalahnya ialah air tubuh dapat hilang dengan mudah melalui tiap permukaan yang basah, tipis permeabel dan mempunyai pembuluh darah yang berfungsi sebagai membran pernapasan. Sebagian besar hewan darat, telah menyesuaikan diri terhadap keadaan yang menentang inidengan mengembangkan alat pernapasan yaitu trakea dan paru- paru, di mana membran pernapasan terletak jauh di dalam tubuh dalam ruang- ruang dengan kelembapan nisbi yang mendekati 100% (kejenuhan pada suhu tubuh hewan. Di samping itu, karena kadar oksigen udara itu begitu tinggi, maka hanya sedikit udara yang harus diganti pada tiap pengambilan napas. Faktor- faktor inilah yang mengurangi hilangnya air. Udara yang keluar masuk ruang- ruang ini hanya sebanyak yang di perlukanuntuk kebutuhan metabolisme hewan pada waktu dan keadaan tertentu (Ville, 1999).
       Sebagian besar organisme air seperti protozoa, hidra, cacing pipih dan rotifera tidak mempunyai alat pernapasan khusus. Permukaan tubuh hewan ini yang dalam beberapa hal di tunjang oleh lapisan saluran pencernaan atau rongga badan yang lainnya, merupakan satu- satunya membran pernapasan yangdiperlukan, karena perbandingan luas permukaan terhadap volume tubuh cukup menguntungkan. Pada waktu oksigen berdifusi ke dalam dan karbon dioksida keluar tubuh, maka oksigen dalam lapisan air yang membatasi permukaan tubuh habis dengan cepat dan karbondioksida tertimbun dengan cepat pula. Jika seekor hwan stasioner dan tidak hidup dalam suatu habitat di mana lapisan air pembatas itu tidak mengalir maka sel yang bersilium atau berflagelium menggerakkan air tersebut melalui permukaan rongga- rongga tubuh organisme tersebut sehingga akan terdapat penyediaan oksigen yang terus menerus (Ville, 1999).
       Menurut Anonim (2010), faktor- faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah :
1.       Ketersediaan substrat.
Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
2.       Ketersediaan Oksigen.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
3.       Suhu.
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10 , namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
4.       Tipe dan umur tumbuhan.
Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasiakan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Bahan I : Belalang
No
Menit ke- n
Skala
Keterangan
1.
0
0
-
2.
5
0,41
0,0014 skala/ sekon
3.
10
0,47
0,0007 skala/ sekon
4.
15
0,61
0,0006 skala/ sekon
5.
20
0,65
0,0005 skala/ sekon

Bahan II : Kecoa
No
Menit ke- n
Skala
Keterangan
1.
0
0
-
2.
5
0,41
0,0013 skala/ sekon
3.
10
0,96
0,0016 skala/ sekon

No comments:

Post a Comment