HALAMAN PENGESAHAN
Laporan
lengkap praktikum biologi dengan judul “Pengaruh Ph Terhadap Aktivitas Enzim”
di susun oleh :
Nama : Nur
Hikmah. S. Jumain
NIM : 101 404
046
Kelas :
A
Kelompok :
VII
Telah diperiksa dan dikonsultasikan
kepada Asisten/ Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.
Makassar, Desember 2010
Koordinator Asisten Asisten
Suhaedir
Bahtiar S.pd Astuti Syam
NIM
:
Mengetahui
Dosen Penanggung
Jawab
Drs.
H. Hamka L, MS
NIP :
1921231 198702 1 005
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Biologi merupakan salah satu cabang ilmu
pengetahuan yang mempelajari mengenai
makhluk hidup. Ada berbagai jenis makhluk hidup di dunia ini di seluruh belahan dunia. Setiap spesies memiliki bentuk dan
karakteristik yang sangat beragam.
Banyak hal yang bisa kita
pelajari dari makhluk hidup. Dari suatu organ saja kita bisa mendapat berbagai
macam ilmu. Karena organ tersebut di susun oleh berbagai jaringan yang saling
bekerja sama untuk membentuk suatu kesatuan.
Terdapat beribu- ribu sel
yang saling bekerja sama untuk membentuk suatu kesatuan dan menghasilkan
individu yang sempurnah. Sel- sel itu pasti saling bereaksi sehingga seorang
makhluk hidup mampu menjalankan segala aktivitasnya dengan mudah. Salah satu
komponen dalam pelaksanaan reaksi tersebut adalah enzim. Bila tanpa enzim,
entah apa yang akan terjadi pada sistem kerja tubuh makhluk hidup.
Enzim sangat berpengaruh,
dalam hal reaksi. Dalam pembelajaran yang kita dapatkan ada beberapa faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi kerjanya. Salah satunya adalah derajat keasaman
atau Ph. Kita dapat memberi contoh enzim ptialin pada mulut kita, jika tingkat
keasamannya tinggi apa yang akan terjadi? akan berguna kah atau bahkan
merugikankah? dan bagaimana cara menaikkan dan menurunkaan Ph-nya?
Mahasiswa dapat menjawab
pertanyaan- pertanyaan tersebut dengan melakukan percobaan ini “ Pengaruh Ph
terhadap aktivitas enzim”. Walaupun dalam percobaan ini kita mengambil sampel
enzim amilase, setidaknya kita dapat melihat apa pengruh dari tingkat keasaman
tersebut.
B. Tujuan praktikum
Membuktikan
pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase
C. Manfaat praktikum
Mahasiswa dapat melihat secara langsung
bukti bahwasanya pH sangat berpengaruh pada aktivitas enzim, seperti enzim
amilase.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Aktivitas enzim sangat terpengaruh oleh
keadaan suhu dan pH. Masing- masing enzim dapat bekerja dengan efektif pada
suhu dan Ph tertentu dan aktivitas nya berkurang dalam keadaan di bawah atau di
atas titik tersebut enzim pepsin pencernaan protein bekerja paling efektif pada
pH 1-2 sdangkan enzim proteolitik lainnya, tripsin, pada pH tersebut menjadi
tidak aktiv, tetapi sangat efektif pada Ph 8. Karena kita sekarang telah
mengerti dan mengenai :
1) Peranan
penting dari struktus tersier, yaitu bentuk di dalam fungsi enzim.
2) Peranan
dari daya yang lemah seperti ikatan hidrogen dan ion dalam pembentukan struktur
tersier.
Ikatan
hidrogen mudah rusak dengan menaikkkan suhu. Hal ini selanjutnya akan merusak
bagian- bagian dari struktur tersier enzim yang esensial untuk mengikat
substrat. Perubahan pH, mengubah keadaan ionisasi dari asam amino yang
bermuatan (yaitu asam aspartiat. Lisnina) yang dapat mempunyai peranan penting
dalam pengikatan substrat dan proses katalitik. Tanpa gugus – COOH dari Glu –
35 yang tidak terion dan gugus – COO dari ASP-52 yang terion , proses katalitik
dari lisozim akan terhenti ( Kimbal, 1983).
Banyak enzim tidak akan bekerja tanpa
adanya suatu zat nonprotein tambahan yang di sebut kofaktor. Kofaktor dapat
berupa suatu ion metal seperti Zn ++ (suatu kofaktor karbonat anhidrase), Cu++,
Mn++, Mg++, K+, Fe++, atau Na++. Atau kofaktor dapat berupa suatu molekul
organik kecil di sebut koenzim. Kelompok vit B seperti tiamin (B1), riboflavin
(B2) dan nikotinamida berfungsi sebagai koenzim. Kooenzim dapat terikat erat
(ikatan kovalen) pada bagian protein dari enzim sebagai gugus prostetik,
lainnya dapat terikat secara longgar atau malahan hanya sementara pada waktu
enzim tersebut melaksanakan fungsi katalitiknya ( Kimbal, 1983).
Ada sejumlah mekanisme yang berperan
agar kerja enzim- enzim itu efisien dan terkoordinir. Bagi enzim- enzim seperti
proteinase, yang dapat merombak substabsi sel itu sendiri, kita mendapatkan
bahwa kerjanya terhambat jika mereka berada di dalam sel. Sebagai contoh
proteinase pepsin dibentuk dalam sel dalam bentuk inaktif yaitu pepsinogen (
Kimball, 1983).
Konsep kompleks enzim- substrat pertama
dikemukakan oleh Emil Fisher, seorang ahli kimia organik pada tahun 1884.
Bagian enzim tempat menyatu dengan substrat disebut sebagai sisi aktif (active side). Pada sisi aktif enzim ini
substrat di rombak menjadi produk. Jika sisi aktif kaku dan spesifik untuk
substrat tertentu, reaksi balik tidak dapat tejadi karena struktur molekul
senyawa produk sudah berbeda dengan senyawa asalnya produk sudah berbeda dengan
senyawa asalnya sehingga tidak “dikenali” oleh enzim. Berbeda dengan konsep
sisi aktif yang kaku dari Fisher, Daniel E. Koshland mengemukakan konsep bahwa
sisi aktif enzim dapat dissuaikan dengan struktur substrat atau produk setelah
molekul- molekul tersebut mendekati sisi aktif enzim. Dengan demikian,
penggabungan antara enzim dengan substrat menjadi lebih pas. Konsep ini
sekarang diknal sebagai hipotesis “ dirangsang – agar- pas (Lakitan, 1993).
Ph medium dapat mempengaruhi aktivitas
enzim. Umumnya terdapat pH optimum agar suatu enzim dapat berfungsi maksimum
dan aktivitas enzim akan menurun pada pH yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Diwakili oleh kurva yang berbentuk lonceng, tetapi untuk enzim lain mungkin
kurvanya relatip datar Kadang gambaran hubungan yaitu dengan aktivitas enzim
dengan pH diwakili oleh kurva berbentuk lonceng, tetapi untuk enzim lain
mungkin kurvanya relatif datar, Ph optimum sering dalam kisaran antara Ph 6
sampai Ph 8 (Lakitan, 1993).
Menurut Anonim 2010, faktor- faktor yang
mempengaruhi aktivitas enzim adalah:
1. Suhu
Sebagian
besar enzim mempunyai suhu optimum yang sama dengan suhu normal sel organisme
tersebut. Suhu optimum enzim pada hewan poikilotermik di daerah dingin biasanya
lebih rendah daripada enzim pada hewan homeotermik. Contohnya, suhu optimum
enzim pada manusia adalah 37 derajat celcius, sedangkan pada katak kenaikan
suhu di atas suhu optimum dapat mengakibatkan peningkatan atau penurunan
aktivitas enzim. Secara umum, tiap kenaikan suhu 10 derajat C, kecepatan reaksi
menjadi dua kali lipat dalam batas suhu yang wajar. Hal tersebut juga berlaku
pada enzim. Panas yang ditimbulkan akibat kenaikan suhu dapat mempercepat reksi
sehingga kecepatan molekul meningkat. Hasilnya adalah frekuensi dan daya
tumbukan molekuler juga meningkat.
2. Ph atau
Keasaman
Seluruh
enzim peka terhadap perubahan derajat keasaman (Ph). Enzim menjadi nonaktif
bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian besar enzim dapat
bekerja paling efektif pada kisaran Ph lingkungan yang agak sempit. Di luar Ph
optimum tersebut, kenaikan atau penurunan ph menyebabkan penurunan aktifitas
enzim dengan cepat.
3. Konsentrasi
Enzim, Substrat dan Kofaktor
Jika ph
dan suhu sistem enzim dalam keadaan konstan serta jumlah substrat berlebihan,
laju reaksi adalah sebanding dengan enzim yang ada. Jika ph, suhu, dan
konsentrasi enzim dalam keadaan konstan, reaksi awal hingga batas tertentu sebanding
dengan substrat yang ada.
4. Inhibitor
Enzim
Enzim
dapat dihambat sementara atau tetap oleh inhibitor berupa zat kimia tertentu.
Zat kimia tersebut merupakan senyawa selain substrat yang biasa terikat pada
sisi aktif enzim (substrat normal) sehingga antara substrat dan inhibitor
terjadi persaingan untuk mendapatkan sisi aktif. Persaingan tersebut terjadi
karena inhibitor biasanya mempunyai kemiripan kimiawi dengan substrat normal.
Pada konsentrasi substrat yang rendah akan terlihat dampak inhibitor terhadap
laju reaksi, kondisi tersebut berbalik bila konsentrasi substrat naik.
BAB
III
METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan tempat
Hari /
tanggal : Jumat, 26
November 2010
Pukul : 13.30-
15.30
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III timur
FMIPA UNM
B.
Alat dan
bahan
1. Alat
a) Mortar
dan pistilum
b) Tabung
reaksi (10 buah)
c) Corong
kecil
d) Rak
tabung reaksi
e) Lampu
spiritus
f) Penjepit
tabung
2. Bahan
a) Kecambah
kacang hijau
b) HCl
encer
c) Larutan
NaOH
d) Kertas
Ph
e) Kertas
saring
f) Amilum
g) Fehling
A dan B
h) Korek
api
C.
Prosedur
kerja
1. Menuang
cairan supernatan ( bening) ke dalam 10 tabung reaksi
2. Pada
tabung I, menambahkan amilum, kemudian mengukur pH-nya, setelah itu
menambahkannya dengan fehling A dan B, mendiamkan selama 5 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan
dipanaskan).
3. Pada
tabung II, menambahkan amilum, kemudian mengukur pH-nya, setelah itu
menambahkannya dengan fehling A dan B, mendiamkan selama 10 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan dipanaskan).
4. Pada
tabung III, menambahkan amilum, kemudian mengukur pH-nya, setelah itu
menambahkannya dengan fehling A dan B, mendiamkan selama 15 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan
dipanaskan).
5. Pada
tabung IV, menambahkan amilum, kemudian menambahkan HCl, dan mengukur Ph-nya,
setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 5 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
6. Pada
tabung V, menambahkan amilum, kemudian menambahkan HCl, dan mengukur Ph-nya,
setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 10 menit,
kemudian memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
7. Pada
tabung VI, menambahkan amilum, kemudian menambahkan HCl, dan mengukur Ph-nya,
setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 15 menit,
kemudian memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
8. Pada
tabung VII, menambahkan amilum, kemudian menambahkan NaOH, dan mengukur Ph-nya,
setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 5 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
9. Pada
tabung VIII, menambahkan amilum, kemudian menambahkan NaOH, dan mengukur
Ph-nya, setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 10 menit,
kemudian memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
10. Pada
tabung XI, menambahkan amilum, kemudian menambahkan NaOH, dan mengukur Ph-nya,
setelah itu menambahkan fehling A dan B, mendiamkannya selama 5 menit, kemudian
memanaskannya. (mengamati perubahan warna setiap penambahan larutan).
11. Pada
tabung X, menambahkan amilum, setelah itu menambahkannya fehlung A dan B, dan
memanaskannya.
12. Membandingkan
warna yang terjadi pada tabung I-X.
13. Membuat
tabel dan kesimpulan.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Enzim
merupakan biokatalisator yang dapat mempercepat reaksi tetapi tidak ikut
bereaksi.
2. Aktivitas
enzim akan bekerja jika pH dalam keadaan normal dan optimum. Dari percobaan ini
terjadi perubahan warna yang membuktikan bahwa enzim tidak bekerja.
3. Enzim
dipengaruhi oleh garam-garam anorganik, pH, suhu, dan juga cahaya.
B.
Saran
1. Untuk
praktikan, agar lebih teliti dalam penambahan larutan- larutannya, juga
penghitungan waktunya.
2. Untuk
asisten, agar lebih memperhatikan lagi cara kerja para praktikan.
3. Untuk
laboran, agar menyediakan alat- alat yang lebih lengkap.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2010. Faktor- faktor
yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim.www. lintasberita.com : di akses tanggal
2 Desember 2010.
Campbell. 2002. Kimia Kehidupan.
Erlangga. Jakarta.
. Erlangga. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 1993.
Dasar- dasar Fisiologi Tumbuhan. Grafindo. Jakarta.
Tim Pengajar. 2010. Penuntun
Praktikum Biologi Dasar. Laboratorium Biologi FMIPA UNM. Makassar.
LAMPIRAN
Jawaban
pertanyaan :
1. Kegunaan
larutan fehling A dan B dan JKJ adalah untuk membantu perubahan warna yang
terjadi pada lerutan atau sebagai indikator ( yang menguji ada tidaknya glukosa
dalam larutan)
2. Pada
ekstraksi enzim dari biji perlu dicentrifuge karena untuk menjadikannya cairan
supernatan( bening) yang nantinya akan ditambahkan dengan beberapa jenis
larutan untuk membuktikan pengaruh ph terhadap larutan.
No comments:
Post a Comment