Pengaruh PH terhadap Aktivitas Enzim
Aktivitas enzim sangat terpengaruh oleh
keadaan suhu dan pH. Masing- masing enzim dapat bekerja dengan efektif pada
suhu dan Ph tertentu dan aktivitas nya berkurang dalam keadaan di bawah atau di
atas titik tersebut enzim pepsin pencernaan protein bekerja paling efektif pada
pH 1-2 sdangkan enzim proteolitik lainnya, tripsin, pada pH tersebut menjadi
tidak aktiv, tetapi sangat efektif pada Ph 8. Karena kita sekarang telah
mengerti dan mengenai :
1) Peranan
penting dari struktus tersier, yaitu bentuk di dalam fungsi enzim.
2) Peranan
dari daya yang lemah seperti ikatan hidrogen dan ion dalam pembentukan struktur
tersier.
Ikatan
hidrogen mudah rusak dengan menaikkkan suhu. Hal ini selanjutnya akan merusak
bagian- bagian dari struktur tersier enzim yang esensial untuk mengikat
substrat. Perubahan pH, mengubah keadaan ionisasi dari asam amino yang
bermuatan (yaitu asam aspartiat. Lisnina) yang dapat mempunyai peranan penting
dalam pengikatan substrat dan proses katalitik. Tanpa gugus – COOH dari Glu –
35 yang tidak terion dan gugus – COO dari ASP-52 yang terion , proses katalitik
dari lisozim akan terhenti ( Kimbal, 1983).
Banyak enzim tidak akan bekerja tanpa
adanya suatu zat nonprotein tambahan yang di sebut kofaktor. Kofaktor dapat
berupa suatu ion metal seperti Zn ++ (suatu kofaktor karbonat anhidrase), Cu++,
Mn++, Mg++, K+, Fe++, atau Na++. Atau kofaktor dapat berupa suatu molekul
organik kecil di sebut koenzim. Kelompok vit B seperti tiamin (B1), riboflavin
(B2) dan nikotinamida berfungsi sebagai koenzim. Kooenzim dapat terikat erat
(ikatan kovalen) pada bagian protein dari enzim sebagai gugus prostetik,
lainnya dapat terikat secara longgar atau malahan hanya sementara pada waktu
enzim tersebut melaksanakan fungsi katalitiknya ( Kimbal, 1983).
Ada sejumlah mekanisme yang berperan
agar kerja enzim- enzim itu efisien dan terkoordinir. Bagi enzim- enzim seperti
proteinase, yang dapat merombak substabsi sel itu sendiri, kita mendapatkan
bahwa kerjanya terhambat jika mereka berada di dalam sel. Sebagai contoh
proteinase pepsin dibentuk dalam sel dalam bentuk inaktif yaitu pepsinogen (
Kimball, 1983).
Konsep kompleks enzim- substrat pertama
dikemukakan oleh Emil Fisher, seorang ahli kimia organik pada tahun 1884.
Bagian enzim tempat menyatu dengan substrat disebut sebagai sisi aktif (active side). Pada sisi aktif enzim ini
substrat di rombak menjadi produk. Jika sisi aktif kaku dan spesifik untuk
substrat tertentu, reaksi balik tidak dapat tejadi karena struktur molekul
senyawa produk sudah berbeda dengan senyawa asalnya produk sudah berbeda dengan
senyawa asalnya sehingga tidak “dikenali” oleh enzim. Berbeda dengan konsep
sisi aktif yang kaku dari Fisher, Daniel E. Koshland mengemukakan konsep bahwa
sisi aktif enzim dapat dissuaikan dengan struktur substrat atau produk setelah
molekul- molekul tersebut mendekati sisi aktif enzim. Dengan demikian,
penggabungan antara enzim dengan substrat menjadi lebih pas. Konsep ini
sekarang diknal sebagai hipotesis “ dirangsang – agar- pas (Lakitan, 1993).
Ph medium dapat mempengaruhi aktivitas
enzim. Umumnya terdapat pH optimum agar suatu enzim dapat berfungsi maksimum
dan aktivitas enzim akan menurun pada pH yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Diwakili oleh kurva yang berbentuk lonceng, tetapi untuk enzim lain mungkin
kurvanya relatip datar Kadang gambaran hubungan yaitu dengan aktivitas enzim
dengan pH diwakili oleh kurva berbentuk lonceng, tetapi untuk enzim lain
mungkin kurvanya relatif datar, Ph optimum sering dalam kisaran antara Ph 6
sampai Ph 8 (Lakitan, 1993).
Menurut Anonim 2010, faktor- faktor yang
mempengaruhi aktivitas enzim adalah:
1. Suhu
Sebagian
besar enzim mempunyai suhu optimum yang sama dengan suhu normal sel organisme
tersebut. Suhu optimum enzim pada hewan poikilotermik di daerah dingin biasanya
lebih rendah daripada enzim pada hewan homeotermik. Contohnya, suhu optimum
enzim pada manusia adalah 37 derajat celcius, sedangkan pada katak kenaikan
suhu di atas suhu optimum dapat mengakibatkan peningkatan atau penurunan
aktivitas enzim. Secara umum, tiap kenaikan suhu 10 derajat C, kecepatan reaksi
menjadi dua kali lipat dalam batas suhu yang wajar. Hal tersebut juga berlaku
pada enzim. Panas yang ditimbulkan akibat kenaikan suhu dapat mempercepat reksi
sehingga kecepatan molekul meningkat. Hasilnya adalah frekuensi dan daya
tumbukan molekuler juga meningkat.
2. Ph atau
Keasaman
Seluruh
enzim peka terhadap perubahan derajat keasaman (Ph). Enzim menjadi nonaktif
bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian besar enzim dapat
bekerja paling efektif pada kisaran Ph lingkungan yang agak sempit. Di luar Ph
optimum tersebut, kenaikan atau penurunan ph menyebabkan penurunan aktifitas
enzim dengan cepat.
3. Konsentrasi
Enzim, Substrat dan Kofaktor
Jika ph
dan suhu sistem enzim dalam keadaan konstan serta jumlah substrat berlebihan,
laju reaksi adalah sebanding dengan enzim yang ada. Jika ph, suhu, dan
konsentrasi enzim dalam keadaan konstan, reaksi awal hingga batas tertentu sebanding
dengan substrat yang ada.
4. Inhibitor
Enzim
Enzim
dapat dihambat sementara atau tetap oleh inhibitor berupa zat kimia tertentu.
Zat kimia tersebut merupakan senyawa selain substrat yang biasa terikat pada
sisi aktif enzim (substrat normal) sehingga antara substrat dan inhibitor
terjadi persaingan untuk mendapatkan sisi aktif. Persaingan tersebut terjadi
karena inhibitor biasanya mempunyai kemiripan kimiawi dengan substrat normal.
Pada konsentrasi substrat yang rendah akan terlihat dampak inhibitor terhadap
laju reaksi, kondisi tersebut berbalik bila konsentrasi substrat naik.
No comments:
Post a Comment